Cerita Legenda Asal-Usul Gunung Bromo dalam Bahasa Inggris dan Artinya


STORY TELLING GUNUNG BROMO - Gunung bromo memiliki cerita legenda yang begitu terkenal dikalangan masyarakat Tenggeres. Legenda yang mereka percayai menjadi salah satu alasan dari ritual tahunan yang mereka lakukan untuk kawah gunung Bromo. Gunung Bromo sendiri terletak di daerah Jawa Timur, tepatnya di daerah Pasuruan. Bromo merupakan salah satu objek wisata paling di incar di Indonesia. Berlibur ke pegunungan memang menjadi salah satu destinasi yang paling diminati, dan Bromo menawarkan pemandangan alam yang begitu natural.

Tanpa buang – buang waktu algi mari kita lihat legenda sinkat gunung Bromo;

Cerita Legenda Asal-Usul Gunung Bromo dalam Bahasa Inggris dan Artinya


Long long time ago there lived a couple in the village near the top of mount Bromo. Joko Seger is his name. He lived peacefully with his wife Roro Anteng. But they were not happy because after some time they did not have any children. Then Joko Seger meditated in mount Bromo asking for god to give them children. Some times later Joko Seger had a dream. In his dream he was told that he would have descendants but on one condition (pada jaman dahulu kala tinggallah sepasang suami istri didekat desa di atas gunung Bromo. Namaya Joko Seger. Dia tinggal dengan sangat bahagia bersama istrinya bernama Roro anteng. Tetapi mereka tidak bahagia. Tapi kebahagan mereka tidak lengkap karena mereka tidak di karunia anak sudah dalma waktu yang cukup lama. Kemudian joko Seger bermeditasi di gunugn Bromo berdoa pada Dewaagar mereka di karunia anak. Beberapa waktu kemudian Joko Seger bermimpi. Dalam mimpinya di diberitahu akan dikaruniai keturunan namun dengan satu syarat).

The god asked him to sacrifice his children to the crater of mount Bromo. If he refused to sacrifice, then the god will be angry. Without thinking twice Joko Seger agreed to the condition. After that every year Roro Anteng gave birth to twenty five children. They were very happy and they loved their children so much that they were reluctant to sacrifice them to the crater. They did not give anything to the crater. Then something happened (Dewa memintanya mengorbakan anak – anaknya untuk kawah gunung Bromo. Jika dia menolah untuk berkorban, maka Dewaakan murka. Tanpa berfikir dua kali Joko Seger setuju dengan syarat tersebut. Setelah itu setiap tahunnya Roro Anteng melahir 25 anak. Mereka begitu sangat bahagia dan mereka begitu mencintai anak – anak mereka sehingga mereka enggan untuk mengorbankan anak – anak mereka untuk kawah gunung Bromo. Mereka tidak memberikan apapun kepada kawah gunung).

One day there was a big eruption of mount Bromo. Smoke, fire, hot cloud of ash came out of its crater. The earth was trembling. The sky was dark. Animals ran away from the mountain. People were very scared since some of them became victims of the hot cloud. Joko Seger and Roro Anteng remembered their promise to god (pada suatu hari terjadi erupsi yang sangat besar di Gunung Bromo. Asap, api, awan debu muncul dari kawah gunung. Bumi bergetar. Langit menjadi sangat gelap. Binatang – binatang berlari dari gunung. Orang – orang menjadi sangat ketakutan karena beberapa dari mereka sudah menjadi korban dari awan panas. Joko Seger dan Roro Anteng ingat janji mereka kepada dewa.)

He realized that god was very angry. So he decided to sacrifice one of his sons. Then he went to the crater with his youngest son Kusuma. Because Joko Seger did not really want to sacrifice his son to the crater, he tried to hide him. But suddenly an eruption began and made Kusuma fall (mereka sadar bahwa dewa sudah begitu murka. Jadi, dia memutuskan untuk mengorbankan satu dari Putra mereka. Kemudian dia pergi ke kawah gunung bersama Putra bungsunya Kusuma. Karena Joko Seger tidak berniat untuk mengorbankan anaknya, dia mencoba menyembunyikan Putranya. Namun tiba – tiba erupsi terjadi dan membuat Kusuma terjerembab).

Afterwards, Kusuma, who had fell to the crater, gave a voice, “I have to be sacrificed by my parents so that you will all stay alive. From now on, you should arrange an annual offering ceremony on the 14th of Kesodo (the twelfth month of Tenggerese calender.)” (setelah itu, Kusuma, yang jatuh kedalam kawah, berteriak, “I aku dikorbankan oleh orang tuaku jadi kalian semua harus tetap hidup. sampai saat ini, rakyat harus mengadakan ritual tahunan perayaan dari Kesedo ke-14 (bulan ke 12 dari kalender Tenggerese) )

Since then on Joko Seger and Roro Anteng gave offerings to the crater. Every year on the 14th day of the month of Kesada the people of Tengger held a ceremony to give offerings (sejak saat ini Joko Seger dan Roro Anteng memberikan sesajen untuk kawah gunung. Setiap tahun di hari ke – 14 dari bukan Keseda orang – orang dari desa Tengger mengadakan upacara memberi sesajen).

--*--

Moral yang dapat kita ambil adalah; bahwa gunung Bromo mengajarkan kita akan taat kepada agama/ keyakinan yang kita anut. Upacara yang dilakukan setiap tahun menjadi bukti bahwa mereka mempercayai dan mematuhi peraturan yang sudah di tentukan dewa. Hal lain yang diajarkan pada legenda ini adalah ‘Kepatuhan terhadap hukum’, hal ini tergambarkan pada permintaan dewa terhadap Joko Seger untuk mengorbankan anaknya sebagai sebuah kewajiban yang harus di penuhi. Ini maksudnya hukum yang sudah di tetapkan harus dipenuhi dan dipatuhi.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel