Biografi R.A Kartini dalam Bahasa Inggris Singkat dan Artinya


BIOGRAFI RADEN AJENG KARTINI - Feminis adalah orang – orang yang berjuang untuk hak – hak perempuan untuk berpolitik, berkecimpung di dunia ekonomi, dan memperjuangkan persamaan gender antara perempuan dan laki – laki. Dewasa ini banyak defines Feminis yang kita jumpai, sebagian dari definisi tersebut tidak cocok dengan asas Negara ataupun agama tertentu. Namun, pada dasarnya Feminis adalah sekumpulan orang yang berjuang untuk mendapatkan dan menegakkan kembali hak – hak perempuan yang sering di renggut dan diabaikan.

Salah satu Feminis yang merupakan pejuang dibalik kemerdekaan Indonesia adalah Raden Ajeng Kartini. Tidak lepas dari peran perempuan, Indonesia merdeka dengan bantuan – bantuan wanita hebat seperti Kartini. Meski tidak berperang memegang senjata di Medan perang, Kertini berperang dengan mendidik mental – mental wanita (khususnya jawa saat itu) untuk lebih berani menuntut pendidikan bagi diri mereka sendiri. Berikut biografi singkat Kartini dalam bahasa Inggris;

Raden Adjeng KBiografi R.A Kartini dalam Bahasa Inggris dan Artinya


Kartini was born on April 21, 1879, in Mayong, Indonesia (Raden Ajeng Kartini lahir pada bulan April pada 21, tahun 1879). In 1903, she opened the first Indonesian primary school for native girls that did not discriminate based on social standing (pada tahun 1903, dia membuka sekolah SD Indonesia pertama untuk anak – anka perempuan Indoneisa tanpa membedakan status sosial mereka).

She corresponded with Dutch colonial officials to further the cause of Javanese women's emancipation up until her death, on September 17, 1904, in Rembang Regency, Java (dia berkorespondensi dengan pemerintah melanjutkan gerakan emansipasi bagi wanita – wanita Jawa sampai kematiannya, pada 17 September tahun 1904, di Rembang) . In 1911, her letters were published (pada tahun 1911, tulisannya di terbitkan).

Raden Adjeng Kartini was born to a noble family on April 21, 1879, in the village of Mayong, Java, Indonesia (Raden Ajeng Kartini lahir dari keluarga kerajaan pada 21 April tahun 1879, di desa Mayong, Jawa, Indonesia). Kartini's mother, Ngasirah, was the daughter of a religious scholar (Ibu Kartini, Ngasirah adalah seorang anak dari seorang petinggi ke-agamaan). Her father, Sosroningrat, was a Javanese aristocrat working for the Dutch colonial government (ayahnya seorang ninggrat yang bekerja untuk pemerintah colonial Belanda). This afforded Kartini the opportunity to go to a Dutch school, at the age of 6 (dan hal ini membuat Kartini dapat bersekolah di sekolah belanda ketika berusia 6 tahun).

The school opened her eyes to Western ideals (sekolah membuat matanya terbuka akan pemikiran barat). During this time, Kartini also took sewing lessons from another regent's wife, Mrs. Marie Ovink-Soer (Saat sekolah, Kartini juga mengambil kursus menjahit dari istri seorang penjaga, Marie Ovink – Soer). Ovink-Soer imparted her feminist views to Kartini, and was therefore instrumental in planting the seed for Kartini's later activism (Ovink – Soer membagikan pemikirannya terhadap Feminist kepada Kartini, dan hal ini kemudian yang menjadi benih bagi Kartini untuk menjadi aktivis).

When Kartini reached adolescence, Javanese tradition dictated that she leave her Dutch school for the sheltered existence deemed appropriate to a young female noble (ketika kartini beranjak dewasa, Tradisi Jawa memintanya untuk meninggalkan sekolah belanda untuk bergabung dengan tempat yang aman bagi anak – anak gadis dari keluarga Ninggrat).

Struggling to adapt to isolation, Kartini wrote letters to Ovink-Soer and her Dutch schoolmates (susah untuk beradaptasi dengan keadaannya yang terisolasi, kartini menulis surat untuk Ovink-Soer dan teman – teman sekolah belandanya), protesting the gender inequality of Javanese traditions such as forced marriages at a young age (menulis protesnya terhadap ada istiadat jawa yang membedakan gender seperti memaksa wanita untuk menikah di Usia yang cukup muda), which denied women the freedom to pursue an education (yang mana hal tersebut membuat para wanita tidak dapat bebas untuk mengejar pendidikan mereka).

Ironically, in her eagerness to escape her isolation, Kartini was quick to accept a marriage proposal arranged by her father (sayangnya, disaat dia begitu ingin bangkit dan keluar dari isolasinya, Kartini menerima pinangan dari seorang pria yang di jodohkan oleh ayahnya). On November 8, 1903, she wed the regent of Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat (pada 8 November 1903, dia menikah bupati daari Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat).

Joyodiningrat was 26 years older than Kartini, and already had three wives and 12 children (Joyodiningrat berusia 26 tahun lebih tua dari Kartini, dan sudah memiliki 3 orang istri 12 orang anak). Kartini had recently been offered a scholarship to study abroad, and the marriage dashed her hopes of accepting it (Kartini menerima tawaran beasiswa untuk sekolah ke luar negeri ketika dia di lamar, pernikahannya hanya menghancurkan harpaannya untuk menerima tawaran tersebut). According to Javanese tradition, at 24 she was too old to expect to marry well (dalam tradisi Jawa, usia 24 tahun adalah usia yang cukup tua untuk menikah).

Intent on spreading her feminist message, with her new husband's approval, Kartini soon set about planning to start her own school for Javanese girls (semakin rajin menyebarkan pesan – pesan feminist, dengan izin suamiya, Kartini kemudian berencana untuk membuka sekolahnya sendiri untuk para perempuan Jawa). With help from the Dutch government, in 1903 she opened the first Indonesian primary school for native girls that did not discriminate on the basis of their social status (dengan bantuan pemerintahan Belanda, pada tahun 1903 dia kemudian membuaka sekolah pertama untuk wanita – wanita Indonesia tanpa membedakan status sosial mereka). The school was set up inside her father's home, and taught girls a progressive, Western-based curriculum (sekolah tersebut di bangun di kediaman ayahnya, dan pengajaran yang diberikan kepada wanita – wanita tersebut menunjukkan kemajuan, berdasarkan kurikulum Barat).

To Kartini, the ideal education for a young woman encouraged empowerment and enlightenment (Untuk Kartini, pendidikan yang ideal untuk wanita – wanita muda adalah mendorong pencerahan atas pemberdayaan). She also promoted their lifelong pursuit of education (dia juga mengatakan keinginannya untuk terus menyebarkan pendidikan). To that end, Kartini regularly corresponded with feminist Stella Zeehandelaar as well as numerous Dutch officials with the authority to further the cause of Javanese women's emancipation from oppressive laws and traditions (sampai akhirnya, Kartini secara terus – menerus menjalin hubungan dengan soerang Feminist bernama Stella Zeehandelaar serta banyak orang – orang Belanda dengan wewenang mereka menelusur lebih banyak penyebab dari penindasan emansipasi wanita Jawa karena tekanan dari Hukum dan adat istiadat) . Her letters also expressed her Javanese nationalist sentiments (dalam tulisannya juga menyebutkan perihal perasaan – perasaan masyarakat Jawa pada saat itu).

On September 17, 1904, at the age of 25, Kartini died in the regency of Rembang, Java, of complications from giving birth to her first child (pada September 17, 1904, di usia 25 tahun, Kartini tutup usia di Rembang, karena komplikasi yang dideritanya setelah melahirkan anak pertamanya). Seven years after her death, one of her correspondents, Jacques H. Abendanon (tujuh tahun setelah kematiannya, salah satu kerabatnya Jaques H. Abendanon), published a collection of Kartini's letters, entitled "From Darkness to Light: Thoughts About and on Behalf of the Javanese People" (menerbitkan tulisan – tulisan Kartini yang diberi judul “Habis gelap terbitlah terang; pemikiran orang – oaring Jawa). In Indonesia, Kartini Day is still celebrated annually on Kartini's birthday (di Indonesia, Hari Kartini masih tetap diperingati setiap tahunnya tepat pada hari ulang tahun Kartini).

Bayangkan jika Kartini tidak pernah memperjuangkan Hak wanita, apakah ada mentri perempuan yang duduk di bangku kepemimpinan? Adakah guru – guru wanita yang mengajar penuh kasih kepada anak – anak generasi penerus bangsa, adakah ilmuan – ilmuan wanita Indonesia yang mampu mengharumkan nama Indonesia di mata dunia?

Kartini telah memperjuangkan hak wanita untuk buka suara, menyampaikan pendapat, dan berhak menggali ilmu sehingga wanita berhak mengemban segala profesi yang mereka Inginkan. Menjadi seorang Atlit misalnya, olahraga seringnya melekat pada Pria, namun dewasa ini begitu banyak Atlit wanita Indonesia yang mengukir prestasi di mata dunia. Jadilah wanita yang terus memperjuangkan kerja keras Kartini.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel