Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerita Rakyat Kerajaan Pajajaran dalam Bahasa Inggris dan Artinya



KISAH KERAJAAN PAJAJARAN - Selamat pagi, selamat datang kembali diruang belajar kami. Seperti biasa kami kembali dengan artikel – artikel yang berisi ilmu pengetahuan yang akan mengisi hari – hari kalian dengan ilmu yang bermanfaat. Tidak perlu menjadi seorang pelajar untuk wajib belajar, dalam usia berapapun kita wajib menuntut ilmu, karna ilmu tidak diperuntukkan pada manusia yang khusus saja, atau di usia yang khusus saja. Kita dtuntut untuk terus menggali ilmu dalam segi apapun, karna tanpa ilmu manusia hanya peradaban yang tidak pernah berkembang.

Cerita Rakyat Kerajaan Pajajaran dalam Bahasa Inggris dan Artinya


Indonesia history is so reach with its kingdoms journey. We knew alot of kingdom was found in this beautiful country, all of them become our ancestors who ha brought us today. Pajajaran was one of Kingdom located in West Java. The capital of the kingdom was Pakuan, today we called it “Bogor”, 60 km south of Jakarta, near to Ciliwung River. Pajajaran was the icon, the face for Sundanese identity. We can find Sundanese in West Jav nowadays. The traditions, culture, and history of their identity started back in 1333 (sejarah indonesia begitu kaya dengan perjalanan kerajaan – kerajaannya. Kita tahu bahwa banyak kerajaan berdiri di negara kita yang indah ini, mereka semua merupakan nenek moyang yang telah membawa kita paa hari ini. Pajajaran merupakan salah satu kerajaan yang berlokasi di Jawa Barat. Pusat dari kerajaan tersebut adalah Pakuan, saat ini kita mengenalnya dengan nama “Bogor”, 60 km dari bagian selatan Jakarta, dekat dengan sungai Ciliwung. Pajajran merupakan maskot dari identitas orang – orang Sunda. Kita dapat menemukan suku Sunda di Jawa Barat saat ini. Tradisi, kultur, dan sejarah daru identitas mereka ini mulai ditemukan pada tahun 1333 silam).

Just the same as other kingdom, Pajajaran has tehir own territory as well. History said they have two ports, its controled by Kalapa. The location of the ports were on the tip of Ciliwug River (Now north Jakarta) and Banten. In 1513 Portugese came to Kalapa. They were seeking a spot to establish themselves in the north coast of Java so that they could centralize their commercil activities in Indonesia. Portugese see indonesian’s herbs potentially bring luck to their commercil activity, so they sell Pepper and indigo that originally from West Java, the cloves of the Moluccas and precious woods and camphor from Sumatra (sama seperti kerajaan lainnya, Pajajaran juga memiliki daerah kekuasaannya sendiri. Sejarah mengatakan mereka memiliki dua pelabuhan yang dibawah pengawasan Kalapa. Lokasi pelabuhan tersebut adalah di ujung sungai Ciliwung (saat ini kita kenal sebagai Jakarta Utara) dan Banten. Paad tahu 1513 Portugis datang ke Kalapa. Mereka mencari tempat untuk membangun tempat menetap digian timur Jawa sehingga mereka dapat memusatkan aktivitas dagang mereka di Indonesia. Portugis melihat potensi besar pada rempah – rempah Indonesia, oleh sea itu mereka menjual lada dan belau biru yang berasal dari Jawa Barat, cengkeh dari molucas, kayu kualitas teraik and kapur barus dari pulau sumatera).

In 1522 Pajajaran and Potugese signed alliance agreement and friendship. In the letter was said that Portugese allowed to build a warehouse and fort in Kalapa. All of the agreements was made in hope for presence of foreign merchants joined their commercil activities and in trust that Portugese soldier would protect the kingdom from the rising power of Demak. Demak already conquered Cirebon in the east and Banten in the west. This event was a path for Islamic believe spread in Inodnesia for the first time (pada tahun 1522 Pajajarna adn Portugis menandatangani persetujuan aliansi dan persahaatan. Pada surat tersebut diseutkan bahwa Portugis diizinkan untuk membangun gudang dan benteng di Kalapa. Semua peretujuan tersebut ertujuan dengan harapan dapat membujuk para peadgang asing untuk bergaung dengan aktivitas perdagangan dan berharap Portugis akan melindungi Kerajaan dari Demak yang semakin meningkat kekuatannya) .

In 1527 Fatahillah, a Prince of Banten, conquered Kalapa and changed the name tobe “Jayakarta” which meant “Victorious act” in Sanskrit. They surrender in 1579, it becomes the ending of the last Hinduism Kingdom of Sunda (pada tahun 1527 Fatahillah, Pangeran Banten, menakhlukkan Kalapa dan mengubah namanya menjadi “Jayakarta” yangmana berarti “Victorius act” dalam bahasa sanskerta. Mrea menyerah pada tahun 1579, dan hal tersebut menjadi akhir dari kerajaan Hindu terakhir di Sunda).

There was a Muslim presence in the archipelago as early as 1100 but there was little Islamic growth before Malacca on the Malay straits became a Muslim stronghold in 1414. Aceh in North Sumatra began expanding its Islamic influence about 1416. The real advent of Islam seems to be when Arab and Persian missionaries entered Java in the early 1400’s and gradually gained converts among the ruling classes (terdapat bukti kehadiran Muslim di nusantara pada awal tahun 1100 tetapi hanya sedikit pertumbuhan Islam seelum Malaca di Malay menjadi Muslim yang kuat paad tahun 1414. Aceh di Sumatra Utara mulai menyebarkan ajaran Islam sekitar tahu 1416. Keadtangan islam benar – benar terlihat ketika bangsa Arab adn Persia masuk ke Jawa pada awal tahun 1400an dan secara bertahap meningkatkan jumlah pemeluk agama islam diantara kelas penguasa).


Kisah singkat diatas dapat menjadi ilmu baru yang kita dapatkan hari ini. Sejarah tidak pernah mati dari peredaran peradaban manusia, akna menjadi cerita ynag terus – menerus berulang dari masa ke masa. Sejarah merupakan identitas. Jadi, buka mata kita terhadap sejarah tanah air sehingga dapat kita wariskan kepada anak – anak kita nantinya.
Loading...