Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerita Rakyat Legenda Candi Borobudur dalam Bahasa Inggris dan Artinya



KISAH CANDI BOROBUDUR - Selamat datang kembali diruang belajar kami, selamat belajar kembali dengan artikel – artikel bermanfaat yang selalu kami siapkan untuk teman – teman semua. Masih dalam pemahasan sejarah, kali ini kita akan mencoa memperkenalkan monumen Budha terbesar di dunia yang sering kita sebut sebagai Candi Borobudur. Candi borobudur begitu terkenal dengan kisahnya yang pernah terkubur dan kembali di temukan setelah berabad – abad lamanya. Moumen ini pernah menjadi salah – satu dari 7 keajaiban dunia yang dilindungi oleh UNESCO.

Tanpa buang – buang waktu lagi mari langsung saja kita lihat kisah singkat candi borobudur dalam bahasa Inggris dibawah ini;

Cerita Rakyat Legenda Candi Borobudur dalam Bahasa Inggris dan Artinya


This famous Buddhist temple, dating from the 8th and 9th centuries, is located in central Java. The Borobudur Temple Compounds is one of the greatest Buddhist monuments in the world, and was built in the 8th and 9th centuries AD during the reign of the Syailendra Dynasty. The monument is located in the Kedu Valley, in the southern part of Central Java, at the centre of the island of Java, Indonesia (Candi Budha yang sangat terkenal ini dibangun pada abad ke-8 da ke-9, terletak di Jawa tengah. Candi Borobudur merupakan bangunan Budha yang paling besar di dunia, dan dibangun paa abad 8 dan 9 pada masa pemerintahan Dinansi Syailendra. Bangunan ini terletak di lembah Kadu, di bagian selatan Jawa tengah, ditengah – tengah pulau Jawa, Indoensia).

The main temple is a stupa built in three tiers around a hill which was a natural centre: a pyramidal base with five concentric square terraces, the trunk of a cone with three circular platforms and, at the top, a monumental stupa. The walls and balustrades are decorated with fine low reliefs, covering a total surface area of 2,520 m2. Around the circular platforms are 72 openwork stupas, each containing a statue of the Buddha (candi utama adalah stupa yang diangun bertingkat di sekeliling yang mana menjadi pusat yang asli: sebuah piramida yang terdiri dari 5 teras persegi, tiga corong yang berbentuk melingkar, dibagian atas, sebuah stupa yang begitu monumental. Dindingnya dihiasi dengan rilif halus, yang memiliki luas permukaan 2,520 m2. Disekitar bagian corong yang melingkar terdapat stupa yaang terbuka sebanyak 72 buah stupa yang mana tiap stupa terdapat patung Budha diatasnya).

The vertical division of Borobudur Temple into base, body, and superstructure perfectly accords with the conception of the Universe in Buddhist cosmology. It is believed that the universe is divided into three superimposing spheres, kamadhatu, rupadhatu, and arupadhatu, representing respectively the sphere of desires where we are bound to our desires, the sphere of forms where we abandon our desires but are still bound to name and form, and the sphere of formlessness where there is no longer either name or form (bagian vertical dari candi borouur terdiri dari bagian dasar, badan, dan bagian atasnya secara sempurna tercipata berdasarkan konsep bumi berdasarkan Komsologi Buddha. Yang dipercaya bahwa bumi terbagi atas tiga bagian (lapisan) yaitu Kamandhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu, yang mana menggamarkan tiga ranah nafsu yang berkaitan dengan hasrat kita, ranah nafsu yang mana ketika kita meninggalkan hasrat kita tetapi masih tetap berkaitan dengan nama dan bentuknya, dan ranah yang tidak memiliki bentuk dimana tidak lagi berkaitan dengan nama ataupun bentuknya).

At Borobudur Temple, the kamadhatu is represented by the base, the rupadhatu by the five square terraces, and the arupadhatu by the three circular platforms as well as the big stupa. The Borobudur Temple Compounds consists of three monuments: namely the Borobudur Temple and two smaller temples situatued to the east on a straight axis to Borobudur (pada candi borobudur, Kamandhatu digambaran sebagai bagaian dasar, Rupadhatu digambarkan dalam 5 teras, dan Arupadhatu digambarkan dalam 3 corong bulat beserta stupanya. Candi Borobudur terdiri dari 3 bangunan/monumen; yang pertama bangunan candi borobuur itu sendiri dan dua candi yang ukurannya lebih kecil yang terletak di bagian timur yang terletak sejajar dengan Borobudur).


The two temples are Mendut Temple, whose depiction of Buddha is represented by a formidable monolith accompanied by two Bodhisattvas, and Pawon Temple, a smaller temple whose inner space does not reveal which deity might have been the object of worship. Those three monuments represent phases in the attainment of Nirvana (dua candi tersebut adalah candi Mendut, yang mana penggambaran Buddha diwakilkan oleh sebuah monolit yang tangguh ditemani oleh dua Bodhisattvas, dan candi Pawon, candi yangleih kecil uang mana agian dalamnya tidak terlihat yang memiliki kemungkinan bahwa disitulah tempat dewa berdoa. Ketiga monumen tersebut menggambarkan fase pencapaian Nirvana).


The boundaries contain the three temples that include the imaginary axis between them. Although the visual links are no longer open, the dynamic function between the three monuments, Borobudur Temple, Mendut Temple, and Pawon Temple is maintained. Tourism also exerts considerable pressure on the property and its hinterland. There is a growing rate of deterioration of the building stone, the cause of which needs further research. There is also a small degree of damage caused by unsupervised visitors (batasan yang terdiri adri 3 buah candi tersebut termasuk garis sumbu berhubungan yang tak kasat mata antara mereka bertiga. Walaupun keterkaita secara visual tidak lagi dapat dilihta, fungsi dinamik antara ketiga monumen tersebut, candi borobudur, candi mendut, dan candi pawon terus terawat. Kegiatan pariwisata juga memberikan tekanan yang cukup besar pada properti dan bagian dalamnya. Terdapat peningkatan pada kerusakan batu bangunan yang penyebabnya masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Terapat juga sedikit sumber kerusakan yang disebabkan oleh pengunjung yang tidak dibawah pengawasan petugas).

The eruption of Mount Merapi is also considered as one of the potential threats because of its deposit acidic ash as happened in 2010 (erupsi Gunung Merapi juga dapat dipertimbangkan sebagai salah satu ancaman karena debu yang dihasilkan mengandung acidic seperti yang terjadi pada tahun 2010).


Cerita singkat diatas dapat membuka mata kita lebih dalam tentang Borubudur yang masih banyak tidak diketahui oleh banyak orang Indonesia. Borobudur merupakan salah satu kekayaan yang kita miliki, sebagai anak bangsa kita wajib mempelajari Borobudur lebih dalam, mengenal lebih jauh akan agar kita dapat terus menjaga kelestariannya. Tidak hanya itu, sudah menjadi tugas kita sebagai anak bangsa mempelajari sejarah agar dapat diperkenalkan kepada seluruh dunia.
Loading...