Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Cerita Nabi Muhammad SAW dalam Bahasa Inggris dan Artinya


KISAH NABI MUHAMMAD - Hello good people, welcome back in our class, selamat datang kembali di kelas kami yang paling menarik dan pastinya tidak henti – hentinya memberikan kalian semua ilmu – ilmu yang berguna. Masih bercerita tentang Nabi, kali ini kita akan melihat kisah hidup kekasih Allah yang merupakan nabi terakhir untuk menyampaikan wahyu – wahyu Allah kepada umat manusia. Muhammad SAW, merupakan nabi yang membawa agama terakhir yaitu Islam, agama yang menyempurnakan agama- agama sebelumnya.

Tanpa buang – buang waktu lagi, mari langsung saja kita lihat kisah singkat Muhammad SAW di bawah ini;

Kisah Cerita Nabi Muhammad SAW dalam Bahasa Inggris dan Artinya


Muhammad (pbuh) was born in Mecca ( Makkah), Arabia, on Monday, 12 Rabi' Al-Awal (2 August A.D. 570). His mother, Aminah, was the daughter of Wahb Ibn Abdu Manaf of the Zahrah family. His father, 'Abdullah, was the son of Abdul Muttalib. His genealogy has been traced to the noble house of Ishmael, the son of Prophet Abraham in about the fortieth descend. Muhammad's father died before his birth. Before he was six years old his mother died, and the doubly orphaned Muhammad was put under the charge of his grandfather Abdul Muttalib who took the most tender care of him. But the old chief died two years afterwards. On his deathbed he confided to his son Abu Talib the charge of the little orphan (Muhammad SAW lahir di Mekah, Arab, pada hari Senin, 12 Rabi’ Al-awal (2Agustus tahun 570 Masehi). Ibunya bernama Aminah, putri dari Wahb Ibn Abdul Manaf dari keluarga Zaharah. Ayahnya bernama Abdullah, merupakan anak dari Abdul Mutallib, silsilahnya berasal dari keturunan terbaik Ismail, anak dari nabi Ibrahim dari keturunan yang ke-empat. Ayah Muhammad meninggal sebelum kelahirannya. Sebelum dia berusia 6 tahun ibunya meninggal dunia, dan Muhammad yang menjadi seorang yatim –piatu kemudian di rawat penuh asih saying oleh kakeknya Abdul Mutallib. Tetapi kemudian sang kakek meninggal dunia 2 tahun setelah itu. Sebelum hembusan nafas terakhirnya, dia memberikan Muhammad kepada anaknya Abu Talib untuk dijawa.).

When Muhammad was twelve years old, he accompanied his uncle Abu Talib on a mercantile journey to Syria, and they proceeded as far as Busra. The journey lasted for some months. It was at Busra that the Christian monk Bahira met Muhammad. He is related to have said to Abu Talib: 'Return with this boy and guard him against the hatred of the Jews, for a great career awaits your nephew." From youth to manhood he led an almost solitary life (ketika Muhammad berusia 12 tahun, ia menemani pamannya Abu Talib berdagang ke Syria, dan mereka melakukan perjalanan hingga Büşra. Perjalanan tersebut berlangsung selama beberapa bulan. Di Busralah ketika seorang Kristen taat bernama Buhira bertemu dengan Muhammad. Dia mengatakan kepada Abu Talib; ‘baw kembali anak ini dan temani dia untuk melawan orang – orang Yahudi yang penuh dengan kebencian, masa depan yang cerah menunggu keponakanmu’ sejak usia dini hingga beranjak dewasa Muhammad memiliki kehidupan yang mandiri) .

The lawlessness rife among the Meccans, the sudden outbursts of causeless and bloody quarrels among the tribes frequenting the Fair of Okadh (The Arabian Olympia), and the immorality and skepticism of the Quraish, naturally caused feelings of pity and sorrow in the heart of the sensitive youth. Such scenes of social misery and religious degradation were characteristic of a depraved age (kehidupan tanpa hukum diantara orang – orang Mekah, ledakan yang tidak beralasan yang terjadi di Mekah dan pertengkaran penuh darah diantara penduduk sering terjadi, dan perlakuan tak bermoral dan sifat skeptis kaum Quraish, secara alami perasaan sayang dan hati yang penuh luka bagi kaum – kaum muda yang sensitif. Hal ini merupakan penderitaan sosial dan penurunan agama merupakan karakteristik dari zaman yang begitu bejat) .

When Muhammad was twenty five years old, he traveled once more to Syria as a factor of a noble and rich Quraishi widow named Khadijah; and, having proved himself faithful in the commercial interests of that lady, he was soon rewarded with her hand in marriage. This marriage proved fortunate and singularly happy. Khadijah was much the senior of her husband, but in spite of the disparity of age between them, the most tender devotion on both sides existed (ketika Muhammad berusia 25 tahun, dia kembali bepergian ke Syria sebagai agen dari seorang janda kaya kaum Quraish bernama Khadijah; dan sudah membuktikan dirinya setia dalam urusan perdagangan, kebaikan Muhammad kemudian di balas dengan pernikahannya bersama Khadijah. Pernikahan tersebut membawa keberuntungan dan kebahagian. Khadiakh jauh lebih tua daripada suaminya, namun meskipun perbedaan usia diantara mereka, terdapat kasih sayang yang begitu lembut diantara mereka berdua) .

This marriage gave him the loving heart of a woman who was ever ready to console him in his despair and to keep alive within him the feeble, flickering flame of hope when no man believed in him and the world appeared gloomy in his eyes (pernikahan ini memberikan Muhammad seorang wanita yang penuh cinta yang siap menghiburnya dalam kesedihannya dan tetap bersamanya dalam keadaan lemah dan harapan yang nyaris puunah ketika tidak ada seorangpun yang percaya kepadanya dan dunia mengubah matanya menjadi sedih).

Until he reached thirty years of age, Muhammad was almost a stranger to the outside world. Since the death of his grandfather, authority in Mecca was divided among the ten senators who constituted the governing body of the Arabian Commonwealth. There was no such accord among them as to ensure the safety of individual rights and property. Though family relations afforded some degree of protection to citizens, yet strangers were frequently exposed to persecution and oppression (hingga ketika dia beranjak 30 tahun, Muhammad merupakan seorang yang asing/ tidak dikenal di dunia luar. Sejak kematian kakeknya, pemerintah Mekah membagi 10 senator yang mengatur persemakmuran Arab. Tidak ada kesepakatan diantara mereka untuk mejamin keamanan property dan hak individu. Walaupun hubungan keluarga memberikan perlindungan tersendiri kepada warga negara, namun orang – orang asing sering sekali mendapatkan penganiyaan dan penindasan).

When Muhammad reached thirty-five years, he settled by his judgment a grave dispute, which threatened to plunge the whole of Arabia into a fresh series of his oft-recurring wars. In rebuilding the Sacred House of the Ka'ba in A.D. 605, the question arose as to who should have the honor of raising the black stone, the most holy relic of that House, into its proper place. Each tribe claimed that honor (ketika Muhammad berusia 35 tahun, Muhammad menyelesaikan permasalahan tersebut, yang mana menyeret seluruh masyarakat Arab kepada perselisihan baru yang terus – terusan terjadi. Dalam membangun kembali Ka’bah pada tahun 605, muncul pertanyaan siapa yang seharusnya memiliki kehormatan untuk meletakkan batu hitam, yang merupakan pusaka yang begitu suci dari Ka’bah, ditempatnya. Setiap suku menyatakan hak mereka untuk melakukan hal tersebut) .

The senior citizen advised the disputants to accept for their arbitrator the first man to enter from a certain gate. The proposal was agreed upon, and the first man who entered the gate was Muhammad "Al-Ameen." His advice satisfied all the contending parties. He ordered the stone to be placed on a piece of cloth and each tribe to share the honor of lifting it up by taking hold of a part of the cloth. The stone was thus deposited in its place, and the rebuilding of the House was completed without further interruption (para tetua kemudian menasehati para pihak yang berselisih untuk membiarkan seorang yang sudah menengahi masalah ini untuk menjadi orang pertama yang masuk dari pintu tertentu. Tawaran tersebut kemudian disetujui, dan orang pertam tersebut adalah Muhammad “Al-Ameen”. Nasihat Muhammad membuat semua orang merasa puas. Dia memerintahkan batu tersebut diletakkan dengan cara diletakkan diatas kain dan kemudian setiap suku akan mengangkat batu tersebut dengan memegang bagian – bagian dari kain tersebut. Dengan demikian batu tesebut dapat tersimpan di tempatnya, dan pembangun Ka’bah selesai tanpa ada pertengkaran yang berkelanjutan).


Muhammad dengan segala kelembutannya, dikenal sebagai pribadi yang bahkan tidak pernah marah terhadap apa yang dilakukan para musuhnya. Sifat Muhammad yang selalu menghargai orang lain, mengajarkan kita bagaimana ia menghargai pendapat kelompok – kelompok yang datang dengan pemahaman yang berbeda dengannya. Muhammad tidak pernah menyerang atau menyudut kaum – kaum minoritas yang memiliki pendapat yang bebeda. Banyak dari sifat Muhammad yang jika kita aplikasikan dalam kehidupan sehari – hari dapat memberi dampak yang begitu baik bagi kita. Oleh karena itu, sebagai umat yang diberi akal pikiran, sudah seharusnya kita belajar lebih dalam akan kisah hidup Muhammad SAW.
Loading...