Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Contoh Cerita Kisah Nabi Ayyub A.S.dalam Bahasa Inggris dan Artinya


KISAH NABI AYYUB (AS) - Sebagai Muslim, kita diwajibkan untuk mempercayai 20 orang Nabi sebagai rukun iman. Tanpa percaya pada para orang – orang mulia yang menyampaikan perkataan Allah ini maka tidak sempurnalah Islam yang kita miliki. Dari para nabi juga kita belajar semua kisah yang mereka hadapi. Kisah – kisah ini merupakan pelajaran yang seharusnya kita imani dan kita renungi sebagai acuan dalam menjalani kehidupan.

Dibawah ini kita akan melihat kisah singkat dari Nabi Ayub yang terkenal dengan kesabaranya terhadap ujian yang diberikan Allah (SWT) kepadanya, hingga dia kehilangan segala hal beharga dalam hidupnya)

Contoh Cerita Kisah Nabi Ayyub (AS) Dalam Bahasa Inggris dan Artinya


Prophet Ayub (AS) described in Quran with the word “Ayyub” which means “The Patient”. Son of Amos, son of Razeh (according to Ibn Ishaq), son of Rimil (according to others), son of Esau, son of Ishaq (AS), Son of Ibrahim (AS) (Nabi Ayub (AS) digambarkan dalam Al-Quran dengan kata “Ayyub” yang berarti “Kesabaran”. Anak dari Amos, yang merupakan anak dari Razeh (berdasaarkan Ibn Ishaq), anak dari Rimil )berdasarakan lainnya), anak dari Esau, Anak dari Ishaq(AS), anak dari Ibrahim (AS)).

Therefore, Ayyub (AS) was descended from Ishaq (AS), but not through Yaqub (AS) but through Esau. Then it did not belong to the Tribe of Israel, but it was a relative of them. His mother’s name was Minah, who some say was the daughter of Lut (AS), and his wife was Rahmah, daughter of Efraim son of Joseph; He had 26 children. He was born in Basan, Syria (kerena itu, Ayub (AS) merupakan keturunan dari Ishaq (AS), tetapi tidak dari keturunan Yaqub (AS) tetapi dari keturunan Esau. Dan tidak merupakan bagain dari bangsa Israel, tetapi masih merupakan rekan dari keturunan mereka. Ibunya bernama Minah, yang mana beberapa orang mengatakan anak dari Lut (AS), dan IStri Ayub bernama Rahmah, anak dari Efraim putr Dari Yusuf; dia memiliki 26 orang anak. Dia lahir di Basan, Syria).

It is considered that he lived between the 15th and 16th centuries BC, that he lived 220 years and was buried in his own village next to the water source where he bathed, and in which Allaah healed his diseases (hal ini membuat Ayub dinyatakan hidup diantara abad 15 sampai 16 sebelum masehi, yang mana dia hidup selama 220 tahun dan dikuburkan dikampung halamannya berseblahan dengan sumber air dimana dia sering dia mandi, dan tempat dimana Allah menyembuhkan penyakitnya).

It is said that a group of angels argued about the human creatures of Allah, spoke of those who were humble servants of Allah, and those who were arrogant and incurred their discontent. Ayyub was a very righteous servant. Allah put him to the test with his family, his property and his body. The story of Ayyub shows us that sometimes times of hardness and misfortune come to people not because of their wrongdoing, but as a test of Allah (hal ini menyatakan bahwa para malaikat beradu pendapat akan ciptaan Allah, yang mana mereka merupakan makhluk paling rendah hati yang mengabdi pada Allah, dan mereka yang sombong dan menimbulkan ketikpuasaan mereka. Ayub merupakan pembantu Allah yang paling adil. Allah memberinya ujian bersama dengan keluarganya, kekayaan, dan tubuhnya. Cerita Ayub menunjukkan kita terkadang kesusahaan dan ketidak beruntungan datang kepada seorang manusia bukan karena mereka melakukan kesalahan, tapi sebagai ujian dari Allah).

He did not adore him because of favors; his adoration came from his heart and had nothing to do with material things. But to prove to Iblis the depth of Ayyub’s sincerity and patience, Allah allowed him to do with his helpers whatever they wished with the abundance of Ayyub (AS) (dia tidak memuja Allah hanya karena bantunanyanya; dia menyembah Allah tulus dari harinya dan tidak ada kaitannya dengan kekayaan. Namun, untuk membuktikan pada iblis kedalaman dari kejujuran dan kesabaran Ayub, Allah mengabulkan semua permintaan iblis atas kelimpahan harta Ayub (AS)). 

Scholars say that the illness overtook Prophet Ayyub when he was seventy years old. The illness was so severe; historians have written that not a single limb of Ayyub was free from disease except his tongue and his heart, which he used for the remembrance of Allah. He lost his children and his whole family except his wife who remained devoted to him (para ulama mengatakan bahwa penyakit menyerang nabi Ayub ketika beliau berusia 70 tahun. Penyakitnya beragam; para ahli sejarah telah menuliskan tidak ada dari tubuh Ayub yang tidak diberikan penyakit kecuali lidah dan hatinya, yang mana digunakannya untuk menyembah Allah. Dia kehilanga anak dan seluruh keluarganya kecuali istrinya yang mana tetap setia padanya).

Historians have recorded different durations and the extent of the Prophet’s illness. Some claimed his illness lasted three years, others claim seven years, and others claim eighteen years. Regardless of the exact number of years, we can certainly know that Prophet Ayyub patiently bore his illness for a very long time (para ahli sejarah sudah menuliskan rentang waktu dari penyakit – penyakit Nabi Ayub. Beberapa mengatakan penyakitnya bertahan selama 3 tahun, lainnya menyatakan selama 7 tahun, dan sebagain lainnya ada yang mengatakan selama 8 tahun. Terlepas dari jangka waktu yang jelas, kita dapat dengan jelas mengetahui bahwa kesabaran Nabi Ayub menjemukan penyakitnya selama bertahun – tahun lamanya).

Prophets and pious believers know that Allah tests His servants with trials and tribulations to test their patience, raise their rank in Paradise, and erase the sins they have committed. In fact, calamities that befall a Muslim should not be perceived as a disaster that will ruin his/her life, but as a sign that Allah loves him/her. For some Muslims, it is the wake-up call they need to turn to Allah and repent, which is actually a blessing in disguise (para Nabi dan orang beriman tahu bahwa Allah menguji para hambanya sebagai cobaan dan kesengsaraan untuk menguji kesabarannya, meningkatkan kedudukan mereka di surga, dan menghapus semua dosa yang sudah mereka lakukan. Bahkan, musibah yang menimpa seorang Muslim tidak seharusnya dianggap sebagai benacana yang mana dapat merusak hidupnya, tapi sebagai pertanda bahwa Allah mencintainya. Untuk beberpa Muslim, ini merupakan panggilan untuk mereka kembali kepada Allah dan bertobat, yang mana sebenarnya merupakan sebuah hal baik yang datang dari hal buruk yang terjadi).

---***---

Kesabaran Nabi Ayub menerima semua penyakit yang diberikan Allah menjadikannya sebagai kaca untuk para umat manusia agar tidak pernah cepat menyerah terhadap semua ujian yang diberikan Allah. Karena setiap ujian yang diberikan Allah kepada hambanya tidaklah melebihi dari kapasitasnnya. Setiap ujian yang kita dapati merupakan ujian yang Allah tahu dapat kita lalui. Untuk semua masa – masa sulit yang sedang kita lalui saat ini, dimanapun kalian berada, percayalah semua akan kembali baik – baik saja.
Loading...