Cerita Bawang Merah dan Bawang Putih dalam Bahasa Inggris dan Artinya


STORY TELLING BAWANG MERAH DAN BAWANG PUTIH - Satu lagi legenda Indonesia yang juga sangat terkenal di kalangan masyarakat. Seolah legenda ini tidak pernah mati termakan usia. Setiap generasi pasti mengetahui legenda Bawang Putih dan Bawang Merah. Tidak hanya terdapat di buku cerita bergambar yang di jual di toko – toko buku, legenda ini juga sering muncul di buku pelajaran bahasa Indonesia, bahkan sering dijadikan ujian akhir semester pada praktik seni drama yang mana merupakan hal yang bagus untuk meningkatkan kreatifitas anak dan meningkatkan pengetahuan mereka terhadap legenda – legenda Indonesia yang merupakan bagian dari warisan budaya.

Cerita Bawang Merah dan Bawang Putih dalam Bahasa Inggris dan Artinya


Bawang Putih lived with her step mother and her step sister, Bawang Merah. Bawang Putih’s mother died when she was a baby. Her father remarried another woman and later her step sister was born. Unfortunately, not long after that her father died. Since then, Bawang Putih’s life was sad (Bawang Putih tinggal bersama ibu dan kakak tirinya, Bawang Merah. Ibu Bawang putih meninggal dunia ketika dia bayi. Ayahnya kembali menikah dengan wanita lain dan kemudian saudara permepuannya lahir. Saynagnya, tidak lama setelah itu ayahnya meninggal. Sejak saat itu, kehidupan bawang putih menjadi sangat menyedihkan).

Her step mother and her step sister treated Bawang Putih badly and always asked her to do all the household chores. One morning, Bawang Putih was washing some clothes in a river. Accidentally, her mother’s clothes were washed away by the river. She was really worried so she walked along the river side to find the clothes. Finally she met an old woman (ibu dan kakak tirinya memperlakukan bawang putih dengan sangat buruk dan selalu memintanya untuk melakukan semua pekerjaan rumah. Suatu hari, bawang putih sedang menyusi baju di sungai. Tiba – tiba, baju ibunya hanyut. Dia sangat ketakuta jadi dia pergi menyusuri sungai untuk mencari baju tersebut. Dia bertemu dengan seorang wanita tua).

She said that she kept the clothes and would give them back to Bawang Putih if she helped the old woman do the household chores. Bawang Putih helped her happily. After everything was finished, the old woman returned the clothes (wanita tua itu berkata bahwa baju yang sedang dicarinya ada padanya dan akan diberikannya kembali jika dia mau membantu wanita tersebut untuk melakukan pekerjaan rumah. Bawang putih kemudian membantu wanita tua tersebut dengan sangat bahagia. Setelah semuanya selesai, wanita tua tersebut mengembalikan pakaiannya yang dicarinya).

She also gave Bawang Putih a gift. The old woman had two pumpkins, one pumpkin was small and the other one was big. Bawang Putih had to choose one. Bawang Putih was not a greedy girl. So she took the small one. After thanking the old woman, Bawang Putih then went home (dia juga memberi bawang putih hadiah. Wanita tua tersebut mempunyai dua buah labu, satu labu berukuran kecil dan yang satunya lagi berukuran besar. Bwang putih harus memilih salah satu. Bawang putih bukan orang yang rakus. Dia kemudian mengambil yang berukuran kecil. Setelah berterima kasih kepada wanita tua tersebut, bawang putih kemudian pulang kerumah).

When she arrived home, her step mother and Bawang Merah were angry. They had been waiting for her all day long. Bawang Putih then told about the clothes, the old woman, and the pumpkin. Her mother was really angry so she grabbed the pumpkin and smashed it to the floor. Suddenly they all were surprised (ketika dia sampai kerumah, ibu dan kakak tirinya sangat marah. Mereka sudah menunggunya sepanjang hari. Bawang putih kemudian emnceritakan tentang baju, wanita tua dan labu yang diberikannya. Ibunya sangat marah hingga dirampasnya labu tersebut dan kemudian melemparkannya ke lantai. Tiba – tiba mereka semua dibuat terkejut).

Inside the pumpkin they found jewelries. “Bawang Merah, hurry up. Go to the river and throw my clothes into the water. After that, find the old woman. Remember, you have to take the big pumpkin,” the step mother asked Bawang Merah to do exactly the same as Bawang Putih’s experience (mereka menumakan perhiasan didalam labu tersebut. “Bawang merah cepat. Kembali kesungai dan buang bajuku kesungai. Sete;ah itu, temukan wanita tua itu. Ingat, kau harus mengambil labu yang berukuran besar.” Ibunya menyuruh Bawang merah melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan bawang putih).

Bawang Merah immediately went to the river. She threw the clothes and pretended to search them. Not long after that, she met the old woman. Again she asked Bawang Merah to do household chores. She refused and asked the old woman to give her a big pumpkin. The old woman then gave her the big one (bawang merah segera pergi menuju sungai. Dia kemudian membuang baju dan berpura – pura mencarinya. Tidak lama setelah itu, dia bertemu dengan wanita tua tersebut. Lagi – lagi dia meminta bawang merah untuk melakukan pekerjaan rumah. Dia menolak dan meminta wanita itu untuk memberikannya labu. Kemudian wnaita itu memberikannya labu yang besar).

Bawang Merah was so happy. She ran very fast. When she arrived home, her mother was impatient. She directly smashed the pumpkin to the floor. They were screaming. There were a lot of snakes inside the pumpkin! They were really scared. They were afraid the snakes would bite them. “Mom, I think God just punished us” (bawang merah sangat bahagia. Dia berlari sekencang – kencangnya. Ketika dia sampai dirumah, ibunya tidak sabar. Dia langsung melempar labu tersebut ke lantai. Mereka kemudian berteriak. Begitu banyak ular didalam labu tersebut, mereka begitu ketakutan. Mereka takut ular – ular tersebut akan menggigit mereka. “Ibu, aku fikir Tuhan menghukum kita”).

We had done bad things to Bawang Putih. And God didn’t like that. We have to apologize to Bawang Putih,” said Bawang Merah. Finally both of them realized their mistakes. They apologized and Bawang Putih forgave them. Now the family is not poor anymore. Bawang Putih decided to sell all the jewelries and used the money for their daily lives (“kita sudah melakukan hal – hal buruk terhadap bawang putih. Dna Tuhan tidak menyukai itu. Kita harus meminta maaf padanya”. Kata bawang merah. Pada akhirnya mereka berdua menyadari kesalahn mereka. Mereka meminta maaf dan bawang putih memaafkan mereka. Sekarang keluarga tersebut tidak lagi hidup miskin. Bawang putih memutuskan untuk menjual semua perhiasaanya dan menggunakan uangnya untuk kebutuhan mereka sehari – hari).

--*--

Pelajaran yang dapat kita ambil adalah; berhenti bersikap kasar terhadap orang lain. Sekalipun mereka bukan saudara sedarah tidak ada hak yang membenarkan kita untuk besikap tidak adil terhadap orang lain. Dan juga, keserakahan tidak akan membawa kita pada kekayaan yang kekal. Harta hanyalah sementara, kebahagian yang hakiki tidak dapat di ukur dari seberapa harta yang kita miliki, namun seberapa bahagia, cinta, dan kebersamaan kekeluargaan yang kita miliki dalam hidup ini.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel