Biografi Cut Nyak Dien dalam Bahasa Inggris dan Artinya


BIOGRAFI CUT NYAK DHIEN - Feminis merupakan kelompok dari orang – orang yang memperjuangkan kesetaraan bagi perempuan dalam bidang politik, ekonomi, budaya, ruang pribadi dan ruang public. Feminis tidak pernah menganut ideology kebencian, meski banyak yang tidak setuju dengan eksistensi mereka dalam kehidupan. Sebagaimana semboyan yang mengatakan bahwa tidak ada manusia yang sempurna, begitu jugalah semboyan yang pantas disematkan kepada para pejuang feminis, tidak semua dari mereka yang memilki pandangan yang sama terhadap suatu hal, tetapi bukan berarti mereka berpecah belah dan membawa dampak tidak baik.

Indonesia memilki begitu banyak pejuang wanita, yang mana bisa dijadikan sebagai salah satu contoh pejuang Feminis. Seperti yang kita ketahui bahwa wanita Indonesia mendapatkan haknya dalam banyak bidang. Wanita dianggap tidak dapat disetarakan oleh kau laki – laki. Namaun, beberapa pejuang Indonesia ini menyatakan bahwa wanita juga berhak menorehkan prestasi dan berjuang demi tanah air di medan perang.

Cut Nyak Dhien merupakan panglima perang wanita yang memimpin para tentara perang untuk menakhlukkan Belanda yang menjajag Aceh di abad ke -19.

Biografi Cut Nyak Dien dalam Bahasa Inggris dan Artinya


Early life:

Cut Nyak Dhien was born into an Islamic aristocratic family in Aceh Besar in VI mukim district in 1848 (Cut Nyak Dhien lahir dari keluarga aristocrat yang religious di Aceh Besar di Distrik 6 Mukim pada tahun 1848). Her father, Teuku Nanta Setia, was a member of the ruling Ulèë Balang aristocratic class in VI mukim, and her mother was also from an aristocrat family (Ayahnya, Teuku Nanta Setia, merupakan salah satu anggota yang bergabung pada kelompok Ulee Balang (orang – orang yag berketurunan darah biru) dari kasta bangsawan di ditrik 6 Mukim, dan ibunya juga berasal dari keluarga Bangsawan).

She was educated in religion and household matters (Dia mendapati pendidikan dirumah berdasarkan ajaran agama). She was renowned for her beauty (dia snagat terkenal dengan kecantikannya), and many men proposed to her until her parents arranged for her marriage to Teuku Cek Ibrahim Lamnga, the son of an aristocratic family, when she was twelve (dan begitu banyak pria yang melamarnya sampai kemudian orang tuanya menikahkannya dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga, Putra dari salah satu keluarga bangsawan).

Since Aceh was invaded by the Dutch colonialism, her husband (Semenjak Aceh di Jajah oleh Belanda), suaminya), Ibrahim Lamnga fought in the front line to defend their homeland while she boosted the spirit of the army from behind (Ibrahim Lamnga berperang di gars depan untuk membela tanah Aceh). Unfortunately, in June 29th 1878, Ibrahim Lamnga was killed in Gle Tarum which made Cut Nyak Dien furious and vowed to destroy Dutch no matter what it took (sayangnya, pada 29 Juni 1878, Ibrahim Lamnga terbunuh di Gle Tarum yang mana membuat Cut Nyak Dhien sangat marah dan bersumpah untuk menghancurkan belanada apapun resikonya).

She initiated her vow of revenge by marrying her cousin (dia mengajukan sumpahnyatersebut dengan menikahinya sepupunya), Teuku Umar, a warrior in Aceh (Teuku Umar, seorang pejuang Aceh). From that moment on, she actively involved in the front line (Mulai dari saat itu, dan sejak saat itu dia mulai aktif memimpin perang).

Teuku Umar was shot to death in a battle in Meulaboh in February the 11th 1899 (Teuku Umar meninggal tertembak pada pertempuran yang terjadi di Meulaboh pada 11 February 1899). Grieving for only a short time, she decided to continue her struggle with the guerrillas (dia tidak bersedih dalam waktu yang lama, Cut Nyak Dhien kemudian memutuskan untuk melanjutkan perang dengan bergerilya).


Story Of War;

On 26 March 1873, the Dutch declared war on Aceh, beginning the Aceh War (26 Maret 1873, Belanda menyatakan perang kepadan Rakyat Aceh, dan memulia perang di Aceh). During the first part of this war, the First Aceh Expedition, Aceh was led by Panglima Polem and Sultan Alauddin Mahmud Syah II (Selama perang pertama Aceh, Aceh di pimpin oleh Panglima Polem dan Sultan Alauddin Mahmud Syah). The Dutch army sent 3,000 soldiers led by Johan Harmen Rudolf Köhler to take the Sultan's palace (Belanda mengirim 3.000 tentara dipimpin oleh Johan Harmen Rudolf Kohler untuk merebut tahta Sultan).

The Sultan, however, received military aid from Italy and the United Kingdom (Sultan, entah bagaimana, mendapatkan bantuan militer dari Italy dan Inggris), and the Aceh army was rapidly modernized and enlarged from 10,000 to 100,000 soldiers (dan tentara Aceh dengan cepat dimodernisasi dan di perbanyak dari 10.000 menjadi 100.000 ribu tentara). Dutch forces were successfully pushed back, and Köhler died in action (belanda berhasil ditakhlukkan, dan Kohler mati didalam kejadian tersebut).

In November 1873, during the Second Aceh Expedition the Dutch successfully captured VI mukim in 1873, followed by the Sultan's Palace in 1874 (Pada November 1873, selama ekspedisi aceh yang kedua, Belanda menakhlukkan 6 Mukim pada tahun 1873, dan diikuti dengan kedudukan Sultan pada tahun 1874). In 1875, Cut Nyak Dhien and her baby, along with other mothers, were evacuated to a safer location while her husband Ibrahim Lamnga fought to reclaim VI mukim (Pada tahun 1875, Cut Nyak Dhien dan bayinya, dengan beberapa wanita lainnya, di evakuasi ke lokasi yang lebih aman selama suaminya Ibrahim Lamnga berperang melawan Belanda untuk mengambil kembali Mukim 6).

Teuku Ibrahim Lamnga died in this action and not long after that Cut Nyak Dhien accepted Teuku Umar Proposal after he allowed Cut Nyak Dhien to fought against the Ducth (Teuku Ibrahim Lamnga gugur pada perang ini dan tidak lama setelah itu Cut Nyak Dhien menerima pinangan sepupunya Teuku Umar setelah diizinkan untuk ikut berperang melawan Belanda).

The war continued, and the Acehnese declared a holy war against the Dutch (Perang terus berlanjut, dan Masyarakat menyatakan ini adalah Jihad melwan Belanda), engaging in guerrilla warfare and attacking with traps and ambushes (melibatkan perang gerilya dan menyerang dengan perangkap dan penyergapan). Undersupplied, Teuku Umar surrendered to Dutch forces on September 30, 1893 along with 250 of his men (tanpa dukungan, Teuku Umar kemudian menyerahkan diri kepada Belanda pada September 30 1893 bersama dengan 250 tentaranya).

The Dutch army welcomed him and appointed him as a commander (tentara Belanda menyambutnya dan menunjuknya sebagai komandan), giving him the title of Teuku Umar Johan Pahlawan (dan memberikannya julukan Teuku Umar Johan Pahlawan). However, Teuku Umar secretly planned to betray the Dutch (namun, Teuku Umar secara diam – diam merencanakan pengkhianatan untuk Belanda). Two years later Teuku Umar set out to assault Aceh (Dua tahun kemudian Teuku Umar merencakan untuk menyerang pihak Aceh), but instead departed with his troops, heavy equipment, weapons, and ammunition, using these supplies to help the Acehnese (Tapi malah sebaliknya, bersama dengan pasukannya, alat berat, senjata dan amunisi, menggunakana semua persiapan ini untuk membantu orang – orang Aceh) .

This is recorded in Dutch history as "Het verraad van Teukoe Oemar" (the treason of Teuku Umar) (ini merupakan suatu sejarah yang tercatat bagi orang Belanda “Het verraad van Teukoe Oemar” (pengkhianatan dari Teuku Umar) ).

Teuku Umar and Dhien kept resisting the Dutch with their new equipment until the Dutch sent the Maréchaussée (Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien tetap menekan kedudukan Belanda dengan semua pertalatan yang mereka milki sampai akhirnya Belanda mengirim Marechaussee). The Acehnese found these troops extremely difficult to resist and many people were killed (Masyarakat Aceh mengakui bahwa pasukan ini begitu susah untuk di kalahkan dan semakin banyak memakan korban dari sisi Aceh).

The Dutch general Johannes Benedictus van Heutsz took advantage of the condition and sent a spy to Aceh (Johannes Benedict Van Heutsz mengambil kesempatan dari kondisi ini dan mengirimkan mata – mata ke Aceh). Teuku Umar was killed during battle when the Dutch launched a surprise attack on him in Meulaboh (Teuku umar terbunuh dalam peperangan ketika Belanda tiba – tiba memberikannya penyerangan).


Later Life;

Cut Nyak Dhine have fought the Dutch for entire of herlife, she never stop until she became an old woman with blurry eyes and acute lumbago (Cut Nyak Dhien sudah bertarung melawan Belanda seumur hidupnya, dia tidka berhenti sampai dia Tua renta dengan mata yang sudah kabur dan sakit pinggang yang begitu akut). She was struggling to fought the Ducth until she got caught and exile to Sumedang West Java (dia bersusah payah untuk tetap memerangi Belanda sampai dia akhirnya tertangkap dan di asingkan ke Sumedang Jawa barat) .

She is not Idle (dia tetap tidak bermalas – malas diri), in her exile period she taught people around her Al – Quran (dalam masa pengasingannya dia mengajari Alquran untuk orang – orang di sekitarnya). She died on November 8th 1908, however her struggle and spirit of freedom live on (Cut Nyak Dhien tutup usia pada 8 November 1908, namun perjuangan dan semangatnya akan selamanya dikenang). Cut Nyak Dien was a pioneer in feminism in the early 19th century of Indonesian history (Cut Nyak Dhien adalah seorang pahalawan feminis pada awal abad ke 19 dalam sejarah Indonesia).

She was a female leader among males, which at that time was prohibited by her religion (dia merupakan pemimpin diantara laki – laki, yang mana merupakan sebuah larangan dalam agamanya saat itu), but she showed an outstanding quality of a leader so her men obeyed her commands (tetapi dia menunjukkan kualitas yang sangat luar biasa dalam memimpin sehingga semua pasukannya tunduk kepadanya). Her persistence is greatly admired up to now, once she set her eyes on taking back her homeland (tetapi ketekunannya begitu sangat dikagumi sampai saat ini, caranya menlindungi tanah airnya).

She knew that her men were outnumbered but she used her logical strategy to fight the Dutch (Dia tahu bahwa jumlah pasukannya tidak banyak tetapi dia tetap berfikir untuk mengatur strategi untuk memerangi Belanda). Even with old age, blurry eyes, and acute lumbago, she fought until her last breath. She was also a true feminist (walaupun dengan usia yang sudah sangat lanjut, mata yang suda rabun, dan sakit pinggang yang sangat parah, dia berperang sampai nafas terakhirnya. Dia juga seorang feminis sejati).


Tidak ada yang bisa menghentikan perjuangan dan semangat mereka, bahkan sampai saat ini semnagat para wanita – wanita tangguh ini terus diperjuangkan. Begitu banyak wanita tangguh yang kemudian memperjuangkan kesetaran dan hak asasi wanita. Banyak dari wanita Indonesia yang kerap menjadi korban kekerasan seksual atau kekerasan dalam rumah tangga namun tetap diam dan tidak berani untuk berperang memperjuangkan hak atas dirinya sendiri. Ingatlah begitu banyak pahlawan wanita Indoensia yang tidak pernah gentar untuk memperjuangakan martabat Negara dari penjajah, semangat mereka seharusnya tetap hidup didalam setiap wanita Indoneisa lainnya selamanya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel