Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Biografi presiden ke 7-8 Jokowi dalam Bahasa Inggris dan Artinya


BIOGRAFI JOKOWI  - Menjadi seorang Presiden memang bukan perkara mudah, tetapi bukan berarti semua orang tidak dapat menjadi seorang Presiden. Setiap manusia yang diberi akal berhak untuk menuntut ilmu dan mengejar cita – cita mereka. Menjadi seorang Presiden yang mampu memimpin dan membawa Negara ke jenjang yang lebih sukses. Menjadi seorang Presiden tidak dilihat dari seberapa tinggi sosial ekonimi keluarganya, tetapi bagaimana latar belakangnya dan seberapa kompeten seorang tersebut menjadi kandidat menjadi Presiden.

Karena Presiden akan membawa martabat Negara ke mata Dunia, maka seorang Presiden selalu dituntut memiliki ilmu yang mumpuni, ilmu yang dapat mengelola dan melindungi kesejahteraan Negara. Ditangan seorang Presiden terdapat tanggung jawab besar untuk kemakmuran rakyat – rakyatnya. Dibawah ini contoh singkat biografi presiden Indonesia terpilih Joko Widodo;

Biografi Jokowi dalam Bahasa Inggris dan Artinya

Joko Widodo, byname Jokowi, (born June 21, 1961, Surakarta, Central Java, Indonesia), Indonesian businessman (Joko Widodo, nama panggilan Jokowi lahir pada tanggal 21 Juni 1961, di Surakaeta, Jawa Tengah, Indonesia), politician, and government official who served as governor of Jakarta (2012–14) and as president of Indonesia (2014– present) ) (politisi, dan juga seorang pegawai Negeri yang menjabat sebagai Gubernur Jakarta (2012- 2014) dan presiden Indonesia (2014- sampai saat ini).

Joko Widodo, commonly called Jokowi (Joko Widodo, yang bisanya di sering di sapa Jokowi), who attracted international attention with his populist style of campaigning and his anticorruption platform (yang mana mencuri perhatian internasional dengan gaya kampanye populisnya dan seruan anti korupsi) , became the first Indonesian president who did not have a military background or belong to one of the country’s prominent political families (menjadi presiden pertama yang tidak memiliki sejarah militer dalam keluarganya atau bekerja sebagai seorang politikus Negara).

His success at the polls was viewed by many analysts as marking the beginning of a new (kesuksesannya dalam pemilihan sudah menjadi perhatian para analisis sebagai awal yang baru), more democratic era of Indonesian politics (di Era politik Indonesia yang lebih demokrasi). Jokowi was born and raised in Surakarta, a city in the centre of Java northeast of Yogyakarta (Jokowi lahir dan dibesarkan di Surakarta , sebuah kota dibagian jawa timur dari Yogyakarta) .

His father was a wood seller who plied his trade in the city’s streets (ayahnya seorang penjual kayu yang menjajakan dagangannya di pinggir jalan), and throughout much of Jokowi’s childhood he and his family lived in illegally built shacks near the city’s flood-prone Solo River (dan sebagian besar dari masa kecilnya, Jokowi dan keluarganya tinggal di sebuah gubuk yang dibangun secara illegal dekat dengan bengawan Solo). Later, when he entered politics, his populist appeal was rooted in part to those humble beginnings (kemudian ketika dia mulai memasuki ranah politik, sifat demokrasinya di awali dari sifatnya yang rendah hati).

Jokowi applied himself at school and won admittance to Gadjah Mada University in Yogyakarta (Jokowi mendaftarkan dirinya ke sekolah dan berhasil lulus di Universitas Gajah Mada), from which he graduated (1985) with a degree in forestry engineering (yang mana dia kemudian lulus pada tahun 1985 dengan gelar insinyur pertanian). For several years he worked for a state-owned pulp mill in the Aceh region of northern Sumatra (untuk beberapa tahun dia bekerja di pabrik kertas milik Negara di Aceh salah satu daerah dari pulau Sumatra Utara), and he later established his own furniture factory in Surakarta (dan kemudina dia membangun pabriknya sendiri di Surakarta).

By 2002 he had become a highly successful furniture exporter (pada tahun 2002 dia kemudian menjadi pengekspor furniture tersukses), with showrooms on several continents (dengan beberapa showroom di beberapa daerah), as well as chairman of a local branch of the country’s influential furniture manufacturers’ association (dan juga menjadi ketua dari furniture cabang lokal yang begitu berpengaruh).

In 2005 Jokowi, as a member of the Indonesian Democratic Party of Struggle (Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan; PDI-P) (pada tahun 2005 Jokowi sebagai anggota Partai PDI-P), won election as mayor of Surakarta—the first person to be directly elected to that post (memenangkan pemilihan sebagai walikota Surakarta—menjadi orang pertama yang langsung terpilih). He was extraordinarily effective in reducing crime and attracting foreign tourists to the city (dia berhasil mengurangi kejahatan dan menarik turis untuk mengunjungi Surakarta).

His habit of making spontaneous visits to poor neighbourhoods (kebiasaanya untuk mengunjungi warga – warga kurang mampu), and his refusal to accept a salary for his public service contributed to his reputation for humility and honesty (dan penolakannya untuk tidak menerima gaji sebagai pengorbanannya kepada masyarakat menjadikannya memiliki reputasi kemanusiaan dan ketulusan). In 2010 Jokowi was reelected mayor with more than 90 percent of the vote (pada tahun 2010 Jokowi terplih menjadi walikota dengan lebih dari 90 persen suara).

He was later ranked as the third best mayor in the world by the international City Mayors Foundation (dia kemudian masuk kedalam ranking 3 walikota terbaik di dunia berdasarkan yayasan walikota internasional). During his gubernatorial run in Jakarta in 2012 (pada saat menjabat sebagai gubernur Jakarta pada tahun 2012), Jokowi began to be widely compared in the media to U.S. President Barack Obama (Jokowi mulai disbanding – bandingkan dengan Barack Obama di media masa), in part because there was a physical resemblance but also because Jokowi largely fit the Obama mold as a charismatic nontraditional politician (karena Jokowi dianggap memiliki kesamaan fisik tetapi juga karena Jokowi cocok dengan sifat Obama yang karismatik politisi yang modern).

In 2014 the PDI-P selected Jokowi to be its candidate for the Indonesian presidential election (pada tahun 2014 PDI-P memilih Jokowi untuk menjadi kandidat pada pemilihan presiden Indonesia), which was held on July 9 (yang mana diadakan pada tanggal 9 Juli). He was swept to victory with more than 53 percent of the popular vote (dia dapat lebih unggul lebih dari 53 persen vote), defeating former general Prabowo Subianto (mengalahkan Prabowo Subianto).

Though Subianto alleged that there had been widespread vote rigging and formally challenged the election result, the country’s Constitutional Court unanimously rejected his claim in August, clearing the way for Jokowi to take office on October 20 (Walaupun Subianto menuduh ada kecurangan dalam pemilihan presiden tetapi Mahkamah Konstitusi menolak klaim yang dia berikan dan membuka jalan bagi Jokowi untuk kembali menjabat presiden Indonesia) .

As Jokowi entered the presidency, he identified clamping-down on corruption as among his top priorities and as a necessary step to attract more foreign direct investment to the country (tidak lama setelah menjabat sebagai Presiden, dia dapat mengatasi masalah korupsi sebagai salah satu prioritas utamanya dan sebagai salah satu hal penting yang dapat menarik investment asing). He also pushed a nine-point plan for Indonesia that emphasized helping the poor by improving public services (dia juga menekan misi 9- point untuk Indonesia untuk menolong rakyat miskin dengan meningkatkan pelayanan masyarakat).


Apakah tanpa menjadi Presiden lantas kamu tidak bias membuat Negara menjadi lebih baik lagi? Apakah kamu tidak bias membuat reputasi Negara menjadi sangat baik di mata dunia? Tentu saja bias, kamu bisa menjadi pelopor yang mengantar Indonesia menjadi Negara yang dikenal dengan reputasi baik di dunia dengan menjadi anak bangsa yang berprestasi. Menjadi anak bangsa yang berprestasi berarti kamu menjadi pahlawan bagi Negara. Banyak hal yang bisa kamu lakukan untuk berbakti kepada Negara.
Loading...