Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Biografi Pangeran Diponegoro dalam Bahasa Inggris Singkat dan Artinya


BIOGRAFI PANGERAN DIPONEGORO - Hello good people~ welcome back in our space, where you can get more information to enhance your English knowledge. Selamat datang kembali diruang belajar kami, semoga kabar teman – teman semuanya baik – baik saja agar kita bisa memulai pelajaran baru hari ini. Sampai saat ini tidak ada yang membuat kalian merasa jenuh dengan bahasa Inggris bukan? Pastinya tidak ada yang mampu merasa bosan dengan bahasa international yang satu ini, karena bahasa Inggris sudah menginvansi kehidupan sehari – hari kita dalam berbagai bidang. Handphone yang merupakan benda yang paling dekat dan dimiliki hampir oleh semua orang didunia juga dipengaruhi oleh eksistensi bahasa Inggris di dalamnya. Jadi, tidak ada alasan untuk berhenti belajar bahasa Inggris, bukan?

Nah, tanpa banyak buang waktu lagi mari kita lihat Biografi dalam bahasa Inggris hari ini;

Biografi Pangeran Diponegoro dalam Bahasa Inggris dan Artinya


Diponegoro was born on 11 November 1785 in Yogyakarta, and was the eldest son of Sultan Hamengkubuwono III of Yogyakarta (Diponegoro lahir pada 11 November 1785 di Yogyakarta, dan merupakan anak lelaki tertua dari Sultan Hamengkubuwono 3 dari Yogyakarta). During his youth at the Yogyakartan court, major occurrences such as the dissolution of the VOC, the British invasion of Java, and subsequent return to Dutch rule (selama masa mudanya di kerajaan Yogyakarta, banyak kejadian – kejadian besar terjadi seperti pembubaran VOC, Inggris yang datang dan menduduki Jawa, dan selanjutnya kembali kepada pihak Belanda) .

During the invasion, the Sultan Hamengkubuwono II, pushed aside in his power on 1810 in favor of Diponegoro's father, used the general disruption to regain control (selama penjajahan, Sultan Hamengkubowono 2, turun dari jabatannya atas permintaan ayahnya Diponegoro pada tahun 1810, menggunakan kekacaaun yang umum untuk kembali dapat memerintah) . In 1812 however he was once more removed from the throne and exiled off-Java by the British forces (pada tahun 1812, pada akhirnya, dia yang kemudian disingkirkan dari tahtanya dan kemudian diasingkan ke luar Jawa atas paksaan Inggris) .

In this process, Diponegoro acted as an adviser to his father and had apparently provided aid to the British forces to the point where Raffles offered him the Sultan title which he declined (pada saat ini, Diponegoro kemudian menjadi penasihat bagi ayahnya dan menjadi ahli medis bagi para tentara Inggris sehingga iya di tawarkan gelar kesultanan yang tidak diterimanya) , perhaps due to the fact that his father was still reigning (hal tersebut diduga karena pada dasarnya sang ayah masih menjabat sebagai Sultan).

When the sultan died in 1814, Diponegoro was passed over for the succession to the throne in favor of his younger half brother (ketika Sultan meninggal pada tahun 1814, Diponegoro mengabaikan kesempatannya untuk menduduki tahta atas keinginan adik tirinya), Hamengkubuwono IV (1814-1821), who was supported by the Dutch despite the late Sultan's urging for Diponegoro to be the next Sultan (Hamengkubuwono IV (1814 – 1821), yang mana mendapat dukungan dari kaum belanda walaupun sultan mendesak Diponegoro untuk menjadi Sultan yang selanjutnya).

Being a devout Muslim, Diponegoro was alarmed by the relaxing of religious observance at his half brother's court in contrast with his own life of seclusion (sebagai seorang Musli, Diponegoro di peringati akan ada keagamaan yang dianutnya sanat bertolak belakang dengan cara kepemrintahan adiknya) , as well as by the court's pro-Dutch policy (yang mana setuju atas peraturan Belanda).

In 1821, famine and plague spread in Java (pada tahun 1821 wabah dan kelaparan menyebar di seluruh jawa), Hamengkubuwono IV died on 1822 under mysterious circumstances (Hamengkubuwono IV meninggal pada 1822 dengan penyebab kematian yang cukup misterius), leaving only an infant son as heir (hanya meninggalkan seorang bayi laki – laki sebagai pewarisnya). When the year-old boy was appointed as Sultan Hamengkubuwono V (ketika anaknya yang berusia 1 tahun ditunjuk sebagai Sultan Hamengkubuwono V), there was a dispute over his guardianship (terjadi banyak perdebatan perihal perwaliannya).

Diponegoro was again passed over, though he believed he had been promised the right to succeed his half brother - even though such a succession was illegal under Islamic rules (Diponegoro lagi – lagi mengabaikan hal ini, dia sudah menjanjikan hak untuk kesuksesan adik tirinya – walaupun pergantian tahta tersebut merupakan hal yang illegal dalam Islam). This series of natural disasters and political upheavals finally erupted into full-scale rebellion (kekacauan yang berlnajutin dan pergolakan politik akhirny menyebabkan pemberontakan besar – besaran).

Dutch colonial rule was becoming unpopular among local farmers because of tax rises (kepemerintahan Belanda kemudian menjadi tidak popular lagi diantara para petani dikarenan pajak yang semakin meningkat), crop failures and among Javanese nobles because the Dutch colonial authorities deprived them of their right to lease land (gagal panen dan juga para niggrat Jawa menggunakan wewenang pemerintah Belanda untuk merampas tanah mereka).

Diponogoro was widely believed to be the Ratu Adil, the just ruler predicted in the Pralembang Jayabaya (Diponegoro sangat dipercayai untuk menjadi Ratu Adil, dia diprediksikan akan memimpin Pralembang Jaya baya). Mount Merapi's eruption in 1822 and a cholera epidemic in 1824 furthered the view that a cataclysm is inbound (Gunung Merapi mengalami erupsi pada tahun 1822 dan penyakit kolera yang terjangkit pada tahun 1824 yang semakin membuat benca alam semakin meluas), eliciting widespread support for Diponegoro (hal tersebut yang kemudian membuat Diponegoro mendapat dukungan yang dari berbagai daerah).

The beginning of the war saw large losses on the side of the Dutch (pertempuran pertama memberi kekalahan bagi pihak Belanda), due to their lack of coherent strategy and commitment in fighting Diponegoro's guerrilla warfare (dikarenakan kurangnya startegi dan komitmen mereka untuk melawan taktik perang Diponegoro). Ambushes were set up, and food supplies were denied to the Dutch troops (pasukan di kepung dan semua asupan makanan ditolak untuk para pasukan Belanda).

The Dutch finally committed themselves to controlling the spreading rebellion by increasing the number of troops and sending General De Kock to stop the insurgency (pihak Belanda kemudian berkomitmen untuk mengontrol perkembangan pemberontak dengan cara menambah pasukan tentara mereka dan mengirim Jenderal De Kock untuk menghentikan kekacauaan). De Kock developed a strategy of fortified camps (benteng) and mobile forces (De Kock dmeningkatkan strategi dari benteng pertahanan dan tentara yang aktiv). Heavily fortified and well-defended soldiers occupied key landmarks to limit the movement of Diponegoro's troops while mobile forces tried to find and fight the rebels (membangun benteng pertahanan yang kuat dan pertahan penuh para tentara sibuk menjaga daratan untuk memperkecil pergerakan pasukan Diponegoro sementara tentara aktif mencoba untuk bertarung melawan para pemberontak).

From 1829, Diponegoro definitively lost the initiative and he was put in a defensive position (mulai tahun 1829, Diponegoro benar – benar kehilangan kekuatannya dan dia hanya melakukan pertahan tanpa penyerangan); first in Ungaran, then in the palace of the Resident in Semarang (pertama di Ungara, kemudian di kerajaan Semarang), before finally retreating to Batavia (sebelum akhirnya dia mengambil langkah mundur di Batavia). Many troops and leaders were defeated or deserted (banyak para tentara dan juga pemimpin yang dikalahkan atau ditinggalkan).


Hampir 3 seengah abad Belanda menjajah Indonesia, dan selama itu pula banyak dari pahalawan Indonesia gugur demi meangambil kembali Negara tercinta ini. Pengeran Diponegoro adalah salah satu pahlawan yang berperang melawan penjajahan Belanda pada tahun 1820an. Diponegoro yang merupakan anak dar Sultan Hamengkubuwono 3 berjuang mengorbankan nyawanya sendiri demi Indonesia. Semoga bografi Diponegor diatas dapat membuka mata kita yang selama ini buta akan sejarah terbentuknya Negara Indonesia. Budayankanlah membaca, karena dengan membaca dapat membuat kamu berkelanan keliling dunia.
Loading...