Biografi Ki Hajar Dewantara dalam Bahasa Inggris Singkat dan Artinya


BIOGRAFI KI HAJAR DEWANTARA - Pendidikan tidak pernah lepas dari kemajuan suatu bangsa. Bangsa yang merdeka dan maju haruslah memiliki sistem pendidikan yang bagus pula. Pendidikan juga berperan penting dalam kemerdekaan Indonesia. Tanpa bangsa yang berpendidikan kita tidak mampu melepas diri dari penjajah, perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari para pejuang yang merupakan pahlawan tanpa tanda jasa. Mengorbankan seluruh hidupnya untu mencipatakan Bangsa yang bebas dan merdeka.

Ki Hajar Dewantara dikenal sebagai salah satu pahlawan yang berperang berjuang pejajah dalam pendidikan. Memerangi kebodohan yang berakar dalam jati diri bangsa Indonesia. Namun, berjuang untuk memberikan pendidikan yang layak bagi bangsa tidak lah semudah membalikkan telapak tangan, banyak rintangan dan cobaan yang harus di lewati Ki hajar Dewantara demi menyambung ilmu.

Biografi Ki Hajar Dewantara dalam Bahasa Inggris dan Artinya


Soewardi was born in the Javanese aristocracy, his family belonged to the royal house of Pakualaman (Seowardi lahir dari kalangan bangsawan Jawa, keluarganya merupakan anggota dari keluarga kerajaan di Pakualaman). He was one of Prince Paku Alam III's grandsons through his father, GPH Soerjaningra (Dia merupakan salah satu cucu dari pengeran Paku Alam ke -3 dari garis keturunan ayahnya). Thanks to his family's priyayi (Javanese nobility) background (bersyukur atas latar belakang keluarganya yang merupakan seorang Priyayi), he was able to access the colonial public education (dia dapat bersekolah di sekolah milik pemerintah colonial), a luxury that was unattainable by most of common population in the Indies (merupakan suatu kemewahan yang tidak dapat dicapai oleh rakyat biasa).

He graduated from basic education in ELS (Dutch Primary School) (dia lulus sekolah dasar di ELS (Dutch Primari School) ). Then he continued his study at STOVIA, a medical school for native students (kemudian dia melanjutkan pendidikannya di STOVIA, sekolah kesehatan untuk anak – anak pribumi). However, he failed to graduate because of illness (tetapi sayangnya, dia tidak dapat menyelesaikan pendidikannya karena penyakitnya). Later he worked as a journalist and wrote for many newspapers, including Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Indies, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer and Poesara (namun kemudian dia meniti karir di bidang Jurnalis dan menulis banyak surat, diantaranya Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Indies, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer and Poesara) .

He was also a contributor to Kebangoenan, a nationalist newspaper owned by the Dutch-educated jurist and politician Phoa Liong Gie (dia juga salah satu yang berkontribusi untuk Kebangoenan, sebuah surat kabar nasional yang diiiki oleh seorang ahli hukum dan politikus terdidik Belanda Phoa Liong Gie) . During Soewardi's career in printed media, he was considered a talented and accomplished writer (selama karirnya di dunia masa, dia merupakan penulis yang sangat berbakat dan berkembang). His style of writing is popular, communicative and yet imbued with idealism for freedom and anti-colonialism sentiment (gayanya menulis begitu terkenal, komunikatif tetapi juga menginspirasi dengan idealisme untuk kebebasan dan ati colonial).

Besides being tenacious as a young reporter, Soewardi was also active in social and political organizations (disamping menjadi reporter muda yang gigih, Soewardi juga aktif di organisasi sosial dan politik). Since the establishment of Boedi Oetomo in 1908, he was active in their propaganda service to socialize and promote public awareness of Indonesia as a national unity (especially in Java) (semenjak pembentukan Boedi Oetomo pada tahun 1998, dia juga aktif dalam propaganda dalam mensosialisakian kesadaran rakyat terhadap Indonesia merupakan Negara yang menyatu terutama di Pulau Jawa).

He also organized Boedi Oetomo's first congress in Yogyakarta (dia juga membentuk Boedi Oetomo yang pertama di Jogjakarta). Young Soewardi was also a member of the Insulinde, a multi-ethnic organization that was dominated by Indo activists (Soewardi muda juga seorrang anggota Insulinde, organisasi multi- etnis yang di dominasikan oleh aktivis Indonesia). This organization was advocating for self-rule in the Dutch East Indies (organisasinya menyokong peraturan pribadi (peraturan yang dibuat oleh rakyat Indonesia sendiri) di Hindia Belanda). One of the prominent figures in this organization was Ernest Douwes Dekker (salah satu anggota yang terkemuka di dalam organisasi ini adalah Ernest Douwes Dekker). Later, Soewardi was invited to join the party, when Douwes Dekker established the Indische Partij (kemudian, Soewardi di undang untuk bergabung kedalam partai, ketika Douwes Dekker membentuk Indische Partij). In 1913, the Dutch East Indies government sought to collect money to fund the centennial anniversary of Dutch independence from Franceback in 1813 (pada tahun 1913, pemerintah Hindia Belanda meminta sejumlah uang untuk acara peringatan seratus tahun dari kemerdekaan Belnada dari Franceback di tahun 1813).

The donations were drawn from Dutch East Indies citizens, which also include bumiputera (indigenous people) (donasi tersebut kemudian menghilang di daerah Hindia Belanda, yang mana juga termasuk Bumiputera (orang – oran pribumi) ). This decision has ignited critical opposition and negative reactions from pro-independence nationalists, including Soewardi (keputusan ini memperpanas kritik oposisi dan reaksi negative dari anggota yang mendukung kemerdekaan Negara). He wrote several critical columns, such as "Een maar ook voor Allen Allen voor Een" or "One for All, All for One" (dia kemudian menulis beberapa tulisan kritis, seperti "Een maar ook voor Allen Allen voor Een" or "One for All, All for One").

However, the most famous piece of Ki Hadjar Dewantara's column is "If I were a Dutchman" (original title: "Als ik eens Nederlander was"), printed in De Expres newspaper on July 13, 1913 (namun, tulisan yang paling terkenal dari Ki Hajar Dewantara adalah “If I Were a Dutchman” dengan judul asli “Als ik eens Nederlander was”, yang di terbitkan oleh De Express pada 13 Juli tahun 1913). This article fiercely criticized the colonial government of Netherlands Indies (artikel ini menuai kritikan dari pemerinatah colonial Belanda).

The colonial authorities considered Soewardi's writings that criticize the colonial government to be so subversive (Pemerintah kolonial menganggap tulisannya membuat mereka sangat suversif), sensitive and divisive that they feared they might incite a popular revolt and upset the delicate social order of the Dutch East Indies (sensitive dan memecah belah yang mana mereka takutkan dapat menghasut pemberontakan rakyat dan menganggu tatanan sosial pemerintah Belanda yang lemah).

As a consequence, Soewardi was arrested under the order of Governor General Idenburg, and sentenced to exile in Bangka Island (sebagai gantinya, Soewardi di tahan oleh pemerintah Idenburg dan di hukum dengan diasingkan ke Pulau Bangka). However, both his colleagues, Douwes Dekker and Tjipto Mangoenkoesoemo, protested on his behalf, and eventually in 1913, the three of them were exiled to the Netherlands instead (tetapi, kedua temannya, Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo melakukan protes, dan akhirnya pada tahun 1913, ketiganya di asingkan ke Belanda). These three pro-independence activist figures (ketiga orang ii adalah aktivis untuk kemerdekaan Idonesia), Soewardi, Douwes Dekker and Tjipto, were later known as the Tiga Serangkai or the "triad" (Soewardi, Douwes Dekker, dan Tjipto kemudian dikanal sebagai Triad atau Tiga Serangkai). Soewardi at that time was only 24 years old (pada saat itu Soewardi baru berusia 24 tahun).

Demi perjuangan Ki Hajar Dewantara yang sudah memperjuangkan hak mendapat pendidikan bagi seluruh rakyat Indonesia, berjanjilah menjadi anak bangsa yang memberi kontribusi nyata kepada Negara. Tidak sulit untuk berkontribusi dalam memperjuangkan Negara menjadi ke titik yang lebih maju dari yang saat ini kita rasakan, sebagai penerus bangsa kamu harus mengukir prestasi di sekolah, terus menggali ilmu dimanapun dan kapanpun. Dewasa ini kamu bisa mendapatkan ilmu dari mana saja bukan? Dari internet misalnya, jika kamu menggunakan internet dengan cara yang positive maka akan pengaruh positive pula yang akan kamu serap. Selama belajar semuanya!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel